Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Proletar:
Di Bawah Jajahan Rejim Draconian (161)

ni adalah cerita sang Draco, seorang lawyer di jaman Yunani kuno yang pertama kali memberlakukan undang-undang hukum dalam bentuk buku yang terkenal teramat biadab dan kejam. Bentuk hukuman tidak kenal ampun. Seorang pencuri kecil kecilan misalnya pasti dihukum mati, seorang pengutang, bila tidak sanggup membayar hutang dipaksa menjadi slave. Akibatnya sampai sekarang sebuah bentuk hukum yang terlalu menindas disebut sebagai "Draconian Law".

Sang Draco (menurut versi imajinasi saya) yang hidup 2700 tahun yang lalu, ternyata dibangkitkan Tuhan dan setelah mati sekian lama dia tentu ingin mengenal law di jaman yang modern ini. Di head line koran Greeks news yang sedang dia baca terdapat judul "140 mahasiswa luka luka, 2 mati diterjang senjata ABRI". Penasaran sang Draco mencari koran Athens news judulnya kali ini "Presiden Indonesia Memerintahkan ABRI Untuk Menindak Keras Para Demonstran". Sang Draco yang tadinya pesimis bahwa ajarannya tidak tidak berkembang, tiba-tiba tersenyum bangga. Setelah meneliti sejumlah negara, di samping sisa negara-negara komunis dan Arab seperti Irak, Indonesia adalah yang paling disukainya.

Sang Draco akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta. Saat itu situasi sedang memanas, mahasiwa masih terus berjuang melawan penindasan regim orde kafirun. Di jalan-jalan Sang Draco melihat darah berceceran. Ratusan kepala pecah di pentung oleh popor ABRI dan polisi. Tangisan dan teriakan kesakitan bagi telinga Draco adalah symphony yang indah. Betapa kagumnya Draco pada wajah-wajah orang bersenjata yang nampak begitu berwibawa. Tidak jarang Draco menyempatkan diri untuk menegur polisi yang sedang sibuk mengemplangi pemuda yang bertampang polos dengan baton. Di jabatnya tangan polisi itu dengan erat sambil mengatakan congratulation. Dan polisi yang selama ini memang cuma mendengar tokoh pengajar besar yang selalu di sebut-sebut semasa pendidikan AKABRI, nampak girang, sambil menciumi tangan Draco tidak lupa dia meminta tanda tangan. Air mata sang polisi pun turun karena terlalu terharu menemui maha dosen ilmu kepolisian ini. Draco lalu bilang "sudahlah, kembali tuntaskan pekerjaanmu yang mulia itu, lihat anak muda itu sudah mau siuman lagi..".

Draco juga memeluki para marinir dan pasukan huru hara. Di mana-mana dia selalu dikerubungi para tentara. Akhirnya berita tentang Draco sampai di telinga Pangab. Dengan segera dia meminta agar Draco bersedia memberikan ceramah selama sidang umum dan menemui Presiden RI. Tentu saja Draco bersedia, setelah dijemput langsung oleh sejumlah tokoh Golkar, Draco memasuki ruangan sidang. Dalam sekejab gemuruh tepuk tangan membahana. 1000 manusia yang tadinya sedang nyenyak tidur karena bosan, kini terbangun karena sang tokoh besar pujaan mereka hadir di antara mereka.

Dalam pidato Draco mengatakan "bahwa Hukum harus ditegakkan, hukum di atas segala-galanya.sebagai perangkat hukum, penyiksaan dan hukuman mati adalah alat terbaik. Jadi kita tidak boleh segan untuk mengepruk kepala orang-orang yang kastanya cuma bertitel rakyat. Kita adalah hukum, dan objek hukum adalah rakyat". Ruangan sidang gemetar oleh teriakan setuju, tepuk tangan makin menggemuruh. Presiden Indonesia yang datang belakangan, nampak tergesa-gesa menghampiri podium. Senyum mengambang di wajahnya yang mungil, orang besar nomor satu republik inipun harus mengakui bahwa dia banyak belajar dari Dracon, dia pun membungkuk dan sungkem dengan khusuk.

Upacara demi upacara kehormatan dilakukan untuk menjamu Draco, hari terakhir Draco mendapatkan bintang kehormatan dari Presiden "Bintang Mahaputra" atas jasa-jasanya memperbaiki sistim hukum terbaik bagi Indonesia, yang membuat aman jalannya persidangan dan pemerintahan, dan kesuksesan ABRI membunuh sekian ratus demonstran, dan melukai sekian puluh ribu.dan menggagalkan revolusi rakyat yang ingin menjatuhkan sisa regim draconian terbesar di dunia ini. Sang Draco pun tidak mau kalah memberikan bintang "Maha Draconian" pada Presiden karena kepintarannya dalam menjabarkan ajaran Draconian Law.

Draco pulang, Indonesia menganti nama menjadi IndoDraconia. Konon kabarnya di negara ini, pemerintahnya adalah Zombie dan rakyatnya adalah orang-orangan.
Nov 12, 1998(*)


Proletar:
Payung Cinta Henny (162)

enny adalah cinta pertama saya (yang lebih tepat mungkin orang pertama yang mau membalas cinta saya). Dia adalah tetangga yang rumahnya tepat berada di depan rumah. Bapaknya adalah supir bemo, sedang seperti kebanyakan orang Betawi para om Henny adalah pengangguran yang biasa nongkrong menjaga parkiran di depan Pemakaman Umum Karet Tengsin. Tapi walaupun begitu Henny amat manis, badannya tinggi dan seksi. Mencium Henny pertama kali mungkin persis dengan emosi jemaah Haji yang mencium Hajar Aswat pertama kali, ada kepuasan tersendiri yang membuat saya bahagia dan tenteram.

Henny kelas 2 SMP, saya 2 SMA. Karena dia berasal dari keluarga kurang intelek (itu versi keluarga saya dulu yang berangan-angan bahwa kita adalah keluarga cendikiawan yang terpandang). Tidak heran Ibu, abang dan adik saya menentang kisah romance saya ini secara total. Yang ditakuti mereka adalah bila saya kawin nanti saya akan merendahkan keturunan (persis seperti keluarga Mangkunegaraan nggak pantas kawin dengan rakyat jelataan). Dan seperti cerita-cerita di Film India, saya tentunya berperan menjadi seorang thev rebel - pembangkang yang berprinsip. Saya jelas main belakang pacaran diam-diam.

Kita pacaran di rumah neneknya di Pondok Pinang, di sekolahan, di Blok M dan kadang bila pandai mengibuli bapak saya dan istri mudanya saya bisa meminjam mobilnya seharian (pak... ada reuni kelas di Bogor, perlu mobil buat survey lokasi kemping buat sekolahan) dan setelah itu saya dan Henny bisa jalan-jalan seharian. Kadang saya dan henny pacaran dirumah kontrakan orang tuanya yang berdinding papan dan tidak berlistrik. Sambil menonton TV yang bila aki-nya habis mesti dicharge pada tetangga membayar 300 perak.

3 Tahun lamanya kita pacaran. 3 tahun juga lamanya saya dan henny tidak diberkahi oleh keluarga. Ibu saya makin lama semakin ofensive untuk merubah emosi cinta saya kepada realita bahwa keluarga kita dan dia lain mutu dan kasta.

Saya pernah mencoba untuk mendapatkan Titi, anak IPS yang kaya raya tinggal di jalan Bumi Kebayoran Baru untuk mengalihkan cinta saya pada Henny, tetapi disamping rendah diri yang berlebihan, saya capek cuma bisa melototi genteng rumah Titi sesorean karena takut masuk ke dalam di malam minggu. Karena tidak ada pilihan akhirnya saya balik ke Henny saja. Saya kan anak miskin lebih baik pacaran dengan yang lebih miskin tapi cantik dan sexy. Nah itu semua ada di Henny.

Sungguh Henny makin lama makin cantik. Tubuhnya pun semakin bagus. Setiap kalidia berjalan para cowok iseng pasti akan menoleh dan berpikiran jorok. Tidak heran makin lama makin banyak saja para pesaing yang mencoba merebut Henny dari saya. Mulanya Henny tidak menghiraukan itu semua. Cintanya tetap lekat bagai lem UHU, tapi karena tidak tahan deraan cemooh keluarga saya, Henny akhirnya terpikat pada seorang anak Padang yang menjadi tetanggga baru. Jadi walaupun saya sebenarnya lebih tampan, motor saya jelas kelihatan kurus kerontang dibandingkan mobil kijang si Padang. Henny mulai jalan-jalan dengan kijang. Hmm.... tentu Henny lebih nyaman tidak diterpa angin, panasdan hujan, tidak didera matahari seperti waktu saya dan Henny ke Serang ke perkawinan tantenya.

Suatu malam saya datang menghampiri Henny dan si Padang. Saya tanyakan apa betul mereka sudah pacaran? Henny menjawab cuma teman, tapi si Padang menjawab dengan angkuh "memangnya kenapa?" sambil menghembuskan asap rokok ke wajah saya yang sedang jerawatan. Saya sebenarnya adalah mahluk yang mencintai damai, tapi saat itu saya berhenti menjadi dari the cool guy, damai saya lenyap. Seperti Bruce Lee saya tampar itu orang. Dan seperti para pencinta dungu yang kebanyakan romance, saya ajak berkelahi dia karena rebutan perempuan. Oh betapa beruntungnya pencipta lagu dangdut bila melihat aksi saya malam itu, mereka pasti akan bisa menulis lirik-lirik yang menawan.

Tapi selembut lembutnya hati Henny, jog mobil jelas lebih empuk, dan sekeras-kerasnya hati laki laki, akhirnya saya harus menangis ditinggali Henny. Betapa malangnya nasib ini, bumi rasanya gonjang ganjing. Sepi oh sepi, merana oh merana, mana gitar? Tulis puisi. Oh kejamnya dikau wahai Henny, sampai ke Jermanpun dulu aku selalu ingat padamu, dan kini aku kau tinggali..

Putus cinta itu memang menyakitkan. Perlu waktu untuk melupakan rasa perih seperti ini. Tapi sejak putus pacaran dengan Henny sebenarnya saya malah pacaran berkali kali. 2 Jawa, 3 menado, 2 Batak. Mungkin saja saya gampang mendapatkan perempuan karena tampang saya sebanrnya memang tidak buruk. Tapi saya curiga sejak rejeki bertambah, pacaranpun makin mudah.

Tulisan ini saya buat untuk para lelaki yang sedang kasmaran, para pemuda yang jatuh cinta atau putus cinta. Sesungguhnya cinta itu cuma rasa emosi, hasrat laki laki yang asli adalah hasrat birahi dan membuahi wanita sebagai penerus generasi. Cinta bisa hilang termakan jaman. Tapi rasa sayang akan menetap selamanya. Bila anda mendapatkan bahwa anda menyayangi kekasih anda, anda tidak akan pernah cemburu dan sakit hati. Karena cemburu sebenarnya adalah refleksi egoisme terhadap ketakutan kehilangan kekasih anda dari kepemilikan anda, cemburu adalah menandakan anda jatuh cinta terhadap diri sendiri. Seorang penyayang tidak akan broken heart bila ditinggali objek sayangnya, karena yang terbaik buat kekasih anda akan selalu membuat anda bahagia, itulah altruisme, itulah sayang.

Payung Cinta Henny sudah diberikan pada orang lain. Saya dengar dari orang si padang itu terlalu kuat birahi, belum kawin 3 tahun sudah membuahi 2 anak. Dan Henny jelas adalah pohon yang pantas berbuah banyak. Karena Henny adalah tanaman subur ditengah gurun terik dahaga laki laki. Selalu membuat orang ingin berteduh tentunya.

Bila anda baru kehilangan payung, cari payung lainnya. Jangan takut selama mahluk itu bernama perempuan, selalu ada saja yang menawarkan anda untuk berpayung bersama asal anda pandai memikat dengan kata-kata, dan menjual image yang baik seperti berprilaku mirip malaikat, atau yang lebih gampang berduit banyak.
October 28, 98.(*)


Proletar:
Sedikit Hadiah Dari Pencuri (163)
uasa di Amerika tentunya lebih mudah tahun ini karena winter memenggal siang menjadi lebih pendek, matahari selalu terlambat bangkit di dini hari, dan seperti bayi, belum apa-apa dia menghilang dari langit untuk tidur kembali. Ya puasa begitu mudah..

Tapi itu tidak berlaku bagi saya, sebab saya bekerja di second sift, dari jam 4 sore sampai jam 12 malam. Jadi jika saya memulai sahur jam 5 pagi, saya punya kesempatan berbuka jam 7.30 malam hari pada saat full break time, memang saat small break jam 6:00 sore saya masih bisa melahap sekerat donat dan kopi tapi karena cuma 10 menit saya tidak bisa memakan makanan rantangan yang dibawa, sehingga puasa ini mirip dengan di Indonesia, terasa lama sekali..

Akibatnya sambil kembali bekerja dan mencoba melupakan rasa lapar, sering benar saya membenamkan diri di belakang kamera sambil mendengarkan walkman.

KSOP adalah radio station kegemaran , ini adalah oldies statiun yang 24 jam mengumandangkan lagu-lagu tua, tidak seperti channel mayoritas yang didominasi oleh lagu-lagu country seperti George Straits dan Garth Brook yang asik didengarkan para supir truk di highway dan cowboy di ranchnya, saya lebih senang kembali mendengarkan Simon & Gartfunkel atau The Bread bahkan The Temptations.

Sejak minggu lalu KSOP membuat acara yang menarik. Judulnya "Christmas Wish" acara ini adalah membuka line khusus buat pendengar yang mengetahui bahwa ada teman atau tetangga yang sedang dalam kesusahan menjelang natal ini, mereka bisa mendatangi sendiri atau mengirim surat ke alamat radio station ini di 319B East Battlefield blvd MO 65807 atau mengirim fax dan telepon ke 417-886-2155.

Dan semalam saya mulai mendengarkan hasilnya. Elizabeth seorang pendengar memberi tahu bahwa Kathy, tetangga sebelah apartement sedang dalam kesusahan. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit karena kanker ganas yang menyerang paru parunya selama ini, sekarang sudah berubah akut. Selama suaminya tidak bekerja, Kathy yang hidupnya pas-pasan ini cuma bisa menjaga 4 anak yang masih kecil-kecil. Tahun ini mereka tidak sanggup membeli pohon natal apalagi membeli gift yang mahal-mahal. Elizabeth mengetahui kesusahan mereka dari melihat apartementnya yang selalu gelap. Tidak ada hiasan natal, tidak terdengar canda tawa anak-anaknya, mereka menghemat listrik karena tidak berduit.

Dan inilah perbincangan antara Angela, DJ radio KSOP yang menelpon Kathy yang saya dengar live di radio.

Angela : Hallo Kathy, apa kabar?
Kathy : Oh ya saya baik baik saja, siapakah ini?
Angela: Saya Angela dari KSOP, seorang yang mengenal anda memberikan nomor telepon anda, saya cuma ingin tahu apakah anda akan merayakan a Happy Christmat tahun ini?
Kathy: (terdiam sebentar) Rasanya tidak...
Angela: Why? Apakah anda sedang dalam kesukaran? (pancingnya)
Kathy : Yah rasanya begitu, suami saya sudah 2 minggu di rumah sakit. Kata dokter operasi kankernya kemungkinan kecil untuk berhasil.. (terdiam) kemungkinan saya akan menjadi janda....
Angela: Siapa yang menanggung hidup anda selama suami sakit?
Kahty : Oh kami cuma tergantung pada uang disability suami yang tidak banyak.. (terdiam). Natal tahun ini memang bukan natal yang indah bagi anak-anak saya....
Angela: Kathy dengarkan... ini mungkin tidak menolong banyak, tapi Kami dari KSOP ingin anda sekeluarga merayakan natal yang sedikit lebih berarti, oleh karena ini kami akan mengirimkan makanan dan chek sejumlah 300 dollar agar kamu bisa membelikan christmast gift buat mereka semua..... Kathy?
Kathy :( terdiam )...
Angela: Kathy?are you there?... (nada khawatir)
Kathy : (terdengar isakan perlahan) Yess..?
Angela: Are you ok?
Kathy: (suara parau perlahan) saya tidak menyangka... ternyata ada juga yang memperhatikan kesulitan kami..
Angela: Jangan terima kasih pada kami, terima kasihlah pada tetangga anda yang care dan memperhatikan anda, so Merry Christmast Kathy... bye now.

Dilatar belakangi musik natal, Kathy mengucapkan Bye sambil terisak. Dan mata saya membasah mendengar perbincangan ini.

KSOP mengabulkan tidak terhitung banyak wishes, menghibur dan menolong banyak kesulitan orang menjelang Christmast ini. Dan ini membuat saya berkaca pada diri sendiri. Siapakah saya ini? Apa yang sudah saya perbuat untuk menolong orang selama ini?

Saya adalah pencuri, saya tidak kaya. Masa depan saya juga tidak cemerlang, saya selalu khawatir terhadap bill yang berdatangan. Jelas saya sering jalan-jalan, tapi untuk itu budget ketatkan demikian keras. Kadang saya memilih untuk tidur di mobil dari pada membayar 40 dollar di motel (cuma karena desakan Istri, saya akhirnya selalu mengalah). Dan setiap kali mengantar Istri saya ke rumah sakit, saya selalu mencuri majalah di ruang tunggu, majalah baru seperti People Magazine,National Geography, Newsweek dan Time saya bawa pulang. Karena tidak sanggup untuk membeli baru, terlalu buanyak pengeluaran...

Saya ini pencuri, mungkin keturunan ibu saya yang dulu setiap kali ini membelikan gudeg buat anak-anaknya karena terlalu mahal dia memesan dua, dan di cashier membayar satu (gudeg Pejompongan itu selalu ramai, cashiernya agak telmi).

Dan Barangkali ini juga cuma sebagai alibi, seperti ketika saya argumen Ibu saya "Ma, itu namanya kita nyolong" Ibu saya jawab "Mama setiap kali punya uang, mengembalikanya lagi kok". Bagaimana caranya? apa ngaku sama yang punya restaurant? "Oh bukan, mama beli satu bungkus gudeg, mama bayar 2 di kasir.."

Dan saya hari ini akan mengantarkan istri ke rumah sakit. Saya akan kembalikan majalah-majalah itu plus sejumlah majalah milik baru milik kami.

Hari ini saya tidak berpuasa. Bukan lantaran saya kafir dan kurang iman (iman saya malah semakin membaik sejak saya menua). Karena jam 4 sore nanti saya akan menjadi satu dari lusinan karyawan kantor saya yang menjadi donor darah program"Miracle for life". Yang akan menyumbangkan darah buat pasien tidak mampu di rumah-rumah sakit se Amerika.

Saya adalah seorang pribumi Islam, tapi darah saya tidak mengenal agama, dia bisa disumbangkan pada siapa saja, dia bisa mengalir dalam tubuh siapa saja tanpa mengenal warna kulit, keturunan, kepercayaan dan gender.

Dan barangkali cuma itu yang saya bisa hadiahkan bagi kemanusiaan. Sebuah hadiah kecil dari seorang pencuri.
December 16,1998.(*)


Proletar:
Dangdut di Brookmans Park (164)
aya berjalan bagai zombie di samping Vikcy sambil menyeret 2 koper penuh peralatan kosmetik. Setelah melewati loket imigrasi, saya menukarkan traveler check dan sejumlah dollar ke Poundsterlling pada sebuah money changer. Sungguh terperanjat melihat ratusan dollar di tangan nilainya menciut jauh (1 Pound = 1.6 dollar). Belum apa-apa cash value duit kami sudah terserang inflasi. Keperkasaan dollar pudar digergaji mata uang negara monarki ini. Plus dipotong sejumlah komisi, pajak dan entah apalagi.

Marco adalah supir taxi yang diutus Deane menjemput kami. Tinggi badannya sedang dan wajahnya klinis, dia berjaket tebal seperti kebanyakan manusia yang lalu lalang. Dan setiap kali manusia ini bicara gayanya mirip Hugh Grant. Setelah diamati semua orang Inggris memang beraksen Hugh Grant, aktor yang miskin karakter ini memang rada membosankan. Seperti penduduk Pemalang atau Pekalongan, vocal mereka yang medok terkadang susah ditangkap telinga manusia normal.

Hawa dingin menyergap di parkir garage. Secepat itu saya masuk menyelinap ke dalam Renault tua si Marco yang dengan tangkas menyetir keluar airport menuju highway. Mobil-mobil aneh nampak simpang siur, kebanyakan Audi, BMW, Mercedes dan Ford. Ketika saya tanya kenapa jarang mobil Jepang di sini? Marco menjawab bahwa Mobil Jepang selain mahal dibatasi peredarannya, "Kami lebih suka mobil Jerman dan Amerika, mobil buatan Inggris sendiri mutunya tidak sebagus mereka".

Harga bensin bukan main mahalnya, sekitar 79 pence per liter. Ini hampir 3 kali lipat harga di Amerika. Petunjuk jalan di freeway membingungkan, rasanya polisi atau departemen lalu lintas di negara ini kurang kreatif. Lihat plat nomor kendaraan bukan main gede dan tidak efektif. Selain cuma angka dan nomor posisinya serasa mendominasi mobil. Keluar dari highway menuju jalan kecil, nama jalan justru tambah susah dicari. Menuju Brookmans Park, tempat Deane teman yang cuma kami kenal di internet jalan nampak mengecil. Kadang mobil ini harus mengalah menunggu mobil yang didepan lewat. Kambing dan biri biri nongkrong di sepanjang pagar ranch. Suasana country side begitu kental. Awan memekat di langit basah. Setelah 40 menit driving sampai juga kami di tempat sahabat ini.

Anda boleh merasa tersiksa dan menderita di Indonesia. Anda boleh bilang "Jakarta adalah kota mahal, biaya hidup di Jakarta bukan main tingginya".

Tapi, dengarkan apa yang si Marco jawab ketika saya tanya tarif taxi yang jaraknya seperti dari Cengkareng ke Depok.

"How much?"
"69 Pounds!", jawabnya enteng.

Cuma lantaran melihat Deane yang berjalan keluar rumah dan menyambut kami dengan begitu suka, yang membuat saya mencegah saya mencaci-maki dalam bahasa minang campuran.

Saya berikan 75 Pounds termasuk tips. Itu sama dengan $120 alias hampir sejuta rupiah, sayang....

Deane adalah cewek hitam berasal dari Washington DC yang kawin dengan bule sini bernama James. Memeluk tubuhnya saya merasa seperti memeluk sahabat lama. Matanya kecil seperti Cina, tidak seperti kebanyakan negro berambut bagai sumbu kompor, rambut Deane lurus dan panjang. Vicky mengenal dia selama 2 tahun tanpa sekalipun pernah berjumpa. Setelah selesai menyelesaikan program masternya dalam jurusan ESL Teaching Deane sempat mengajar dan beri les private yang menghasilkan income lumayan. Seperti ketika mengenal kami, berbekal intenet, dia menemukan pasangan hidupnya.

Musik dangdut di perut sore itu berbunyi nyaring. Musik perut Vicky terdengar seperti banyo para Cajun di Lousiana. Tanpa menunggu lama, saya memohon pada Deane untuk mencari restaurant Cina. Deane tersenyum mengerti.. "Ayo kita jalan ke Village", katanya sambil mengambil jaket tebal.

Sungguh beruntung, di kota kecil macam begini (sekitar 15 miles utara London) ada juga restaurant Cina, di bundaran kecil yang dikelilingi beberapa toko, kami berkeliling dan akhirnya memutuskan untuk makan di restaurant India.

Hari mulai menggelap waktu itu, saya makan dengan lahap itu kari dan nasi yang ukurannya begitu mini, masakannya tidak terlalu nikmat tapi terus saya embat. Vicky mengobrol ngalor ngidul. Deane menggasak itu daging, itu tepung well entah apa. Kabut tipis menggantung di luar, seperti selimut dia mengambang di antara atap rumah dan taman.

Setelah membayar 30 Pounds, saya beranjak keluar. Si Bombay memberikan 2 kembang ros pada Vicky dan Deane. Kota kecil ini demikian tenang dan sunyi.

Berjalan melangkah kembali kerumah, saya melangkah agak cepat. Rumah tempat kami numpang nampak berada di ujung sana, agak ke bawah di dekat turunan. Deretan bangunan antik berarsitek cute itu seperti berjejeran dengan apik sampai ke batas bukit. Lampu jalan mulai dinyalakan tapi begitu kelihatan redup. Sulit juga mempercayai bahwa sekarang saya berada di negeri ini. Seperti mimpi tampil kembali pertanyaan filosofis kok manusia bokek macam saya bisa kesini? Takdir? Destiny? Nasib baik? Lucky shit?

Sambil melangkah saya mengikuti suara derap kaki, lalu dengan pasti menyanyikan lagu:

"Gubuk Derita"
Nov 21, 99(*)


Proletar:
Pameran Burung di S. Kensington (165)
ubes Station (stasiun kereta/subway) letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Diane. Berjalan lurus kembali ke village kemudian berbelok ke kiri menyebrang jembatan di pagi dingin dan basah malah membuat badan terasa segar walaupun seluruh pori-pori kulit di balik jaket dan sweater tebal ini mengkerut tersiksa di terpa suhu rendah.

Berdiri menunggu train di stasiun kecil yang sepi ini sungguh sebuah pengalaman yang unik. Setiap 5 menit sebuah kereta api cepat melesat mengagetkan meninggali angin beku yang menampar muka kami. Saya taksir kecepatan itu kereta hampir 200 kilometer per jam. Suara mesin yang mendesing beberapa kali membuat ngilu tulang. Saya tidak sanggup membayangkan apa jadinya jika manusia tertabrak itu train. Barangkali jadi kornet, atau daging cincang.

Karcis naik Tube ke London adalah 14 pounds untuk berdua. Keretanya sendiri tidak istimewa. Di bandingkan Jabotabek memang Tubes ini lebih kelihatan bersih. Tapi... baru 20 menit berjalan sang Tubes macet mendadak di lorong bawah tanah. Dan yang seperti ini rasanya belum pernah terjadi pada Jabotabek. Para penumpang yang dalam perjalanan ke tempat kerja sebagian tenang, sebagian gelisah. 30 menit lamanya kami terkurung. Seorang mahasiwa kelihatan pucat pasi lantaran hari ini dia ada exam. Ketika sang masinis mendatangi dan memberikan alibi "bahwa ada kereta yang mendeg di Statuiun Cockfosters". Beberapa bule yang duduk di pojokan malah memaki.

"Ngepet loe!"
"Gue peratiin ini kereta slow dari tadi.. elu sengaja ya?"

Sang masinis mencoba sabar mencoba self defense dengan berucap "Well, theres nothing I can do sir."
Kelompok bule itu malah makin mangkel. Dan menghadiahkan:

"Makan tokai gue nih!"
"Anjing kurap!"
"Anak Lonte!"
"Dasar masinis goblok!"

Saya ketawa cekikikan, sayang adegan para ningrat englander yang terkenal dengan etika dan sopan santunnya itu tidak saya abadikan dalam video camera.

Setelah pindah ke Circle Lines (subway yang trayeknya muter-muter Central London) kami keluar di stasiun Westminster. Tepat begitu keluar tanah yang menyambut kami adalah sang Big Ben. Jam raksasa bagian dari gedung parlemen itu tampak berkilapan. Seperti penduduk gunung Kidul yang pertama kali melihat monas, jelas saya motret-motret kaya orang norak. Berjalan menuju jembatan yang membelah sungai Thames yang berair keruh, Parlemen House dan Big Ben itu makin kelihatan karakternya. Gedung coklat itu penuh ukiran mirip candi. Pada setiap kerucut selalu terdapat simbol entah mahkota entah singa, entah hero dan barangkali dewa dan para santo.

Millenium Whell, atau super bianglala teronggok di seberang. Entah berapa tingginya itu mainan. Tapi bentuknya yang terlalu modern sungguh mengganggu karakter kota London yang sarat dengan bangunan tua yang sangat apik. Bianglala ini jadi seperti nintendo yang dipajang dalam musium, jelas tidak serasi dan nyambung.

Balik menjelajahi sisi depan House of Parlemen yang dijaga oleh patung Oliver Cromwell (Lord Protector of England yang mengukum mati King Charles I), kami menyebrang ke Westminter Abbey. Katedral tua ini sebenarnya bukan gereja tapi sebagai tempat seromonial orang mati (Mati dan tenar/mati dan berguna) yang dimanaje langsung oleh family of the Crown, sekaligus sebagai lokasi kuburan. Sejak tahun 1066 sudah ratusan bangsawan begelar SIR, baron, politisi, tukang puisi, penulis, pahlawan perang dunia pertama yang tidak dikenal mayatnya teronggok di Westminter Abbey.

Bosen membaca nama-nama mayat dan sejarah para ningrat, (Oke gedung itu memang historical sites yang menggugah, mengesankan, membuat kagum, goyang-goyang kepala.. so what?), kami melanjutkan penjelajahan naik Tubes lagi ke Kensington untuk melihat musium dan .... mall.

Jalan di London bukan main ramainya, ukuran jalan itu sendiri kecil dibandingkan dengan jalan di Amerika. Perbaikan kontruksi di sana sini. Bis tingkat merah sekali-kali memintas jalan, sebagian bis ini berubah fungsi menjadi bis turis dengan kap terbuka. Di atas sana bila anda mau perhatikan, akan terdapat puluhan manusia gunung kidul yang meneneng tustel, video camera dan menggondol oleh-oleh yang memenuhi tas demi tas. Dan mereka norak seperti kami, mereka juga mengantungi peta London seperti kami, cuma jelas kami lebih pintar. Mereka bayar untuk ngider-ngider sambil dengerin ocehan guide yang belum tentu benar. Kami mencari dan mempelajari sendiri semua objek wisata. Dan satu lagi, si Vicky pernah 2 kali ke sini, jadi jelas sang bini adalah guide yang paling murah dan handal, dan seperti biasanya, penciuman perempuan selalu tajam begitu dekat pada mall. Kelak begitu dekat dengan Harrods (Mall extravagansa kelas atas) saya melihat ada kunang-kunang di mata si Vicky.

Sebelum menjenguk musium V&A (Victoria and Albert) rasa lapar menuntun kami untuk singgah di Buger King. Lucu melihat restaurant fastfood yang ukurannya semua mini di London ini. Selain itu lucu melihat cara kerja manusianya yang kalah sigap dengan pekerja di Amerika. Juga mangkel ketika saya disodori burger tanpa ketchup. Ketika saya tanya "Eh mas, gue butuh kecap nih.. bagi dong". Mereka dengan malas memberikan muncratan kecap di atas tutup soda plastik... Englishmen.. you are so fuckin' cheap.!

Seorang gembel berbaju compang, berwajah super dekil dengan ingus yang meleleh berdiri di pucuk tangga kearah rest room Burger King. Kebetulan saya duduk bersebrangan dengan posisinya. Gembel eksebisionis ini bukan tanpa alasan berdiri mematung di sana. Seperti ABRI pangkat rendah sekaligus goblok yang hobby memberikan hormat pada atasan atau keluarga atasan yang kebetulan berpergokan, si gembel bule ini juga memberikan hormat pada pengunjung restaurant yang baru memakai rest room dengan menurunkan celananya, sambil cengengesan plus muka konak seperti orang yang hampir klimaks, dikeluarkannya burung perkutut putih dari sangkar lebatnya, dibelai-belai, diaduk aduk, dikocok-kocok kearah para penonton. Wajar kalau ada satu dua cewek menjerit lantaran pameran burung itu.

Karyawan Burgerking berkulit hitam segera bereaksi, tapi ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar ternyata tidak menggentarkan ini Gatotkaca pirang. Setiap kali ditarik keluar, sang penjinak burung masuk dari pintu satunya lagi, lalu berdiri dan membuka celananya kembali. Dan usaha menyeret ini manusia bukannya gampang. Akhirnya datang supervisor Restaurant yang kebetulan adalah seorang negro berbadan Hollyfield. Tanpa kesulitan diangkatnya pahlawan kesayangan Taman Burung ini keluar pintu, dengan enteng di lemparkannya dia ke trotoar.

But I love this guy, really..
Daya tahan, stamina dan keteguhan pendirian sang tunawisma ini jauh di atas ketegaran mahasiswa kita yang suka demonstrasi di tanah air. Lihat, secepat itu badannya ambruk ke beton trotoar, secepat itu dia bangun kembali. Tanpa sungkan... dia pelorotkan celananya tepat di muka kaca depan. Berbekal iman dan keyakinan, dia berjihad dengan caranya sendiri.. yaitu mengencingi kaca dan pintu restaurant...

Anda boleh bangga pernah datang dan melihat keindahan London, anda boleh takjub dengan segala arsitek, peradaban, dan semua patung seni di kota ini...

Tapi, anda belum tentu bisa melihat pemandangan bagus dan unik seperti yang saya lihat saat itu..

Seekor burung Inggris ukuran sedang saya saksikan dengan mata kepala sendiri..! Kepalanya yang plontos, tidak disunat dengan bangga dipamerkan spesial buat kami...

Pameran sekejab ini selesai begitu dia kabur karena mengetahui sang manajer memanggil polisi.
Menyesal saya tidak rekam dalam video lagi...
Nov 23, 1999.(*)

Do not reproduce this page without written permission from the author
Copyright © 1999 - 2000 by Artikel Hasan Basri





Click Here!